Tembakau Kasturi Kian Dilirik, Petani Jember Optimis Raih Peluang Emas Komoditas Unggulan
Tanaman tembakau yang tumbuh subur di wilayah gumukmas jember (photo by red)
Jember, suararakyat.web.id – Di tengah dinamika pertanian nasional, tembakau kasturi kembali mencuri perhatian sebagai komoditas unggulan yang menjanjikan nilai ekonomi tinggi. Memiliki aroma khas dan kualitas premium, jenis tembakau ini semakin diburu industri rokok kretek dan cerutu, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Keunggulannya terletak pada cita rasa dan ketahanan dalam proses fermentasi, menjadikannya lebih bernilai dibanding jenis tembakau lainnya.
Fenomena ini turut menghidupkan kembali lahan-lahan tidur di sejumlah wilayah di Jawa Timur seperti Jember, Bondowoso, dan Situbondo. Petani pun mulai bergairah menanam tembakau kasturi karena harga jual yang lebih tinggi, mencapai Rp 60.000 hingga Rp 100.000 per kilogram tergantung kualitas panen.
“Permintaan tembakau kasturi terus meningkat, terutama dari pabrikan yang mencari aroma dan kualitas unik. Ini peluang bagus untuk meningkatkan pendapatan petani,” ujar Hari Murtiyoso, penyuluh pertanian Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Rabu (30/7/2025).
Dengan penerapan pola tanam yang tepat serta dukungan sarana produksi pertanian, Hari menyebut hasil panen dapat mencapai 1,5 hingga 2 ton per hektare. Tak hanya menjanjikan dari sisi produksi, tembakau kasturi juga membuka peluang hilirisasi produk.
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Gumukmas, Murdoso, mengatakan tembakau kasturi dapat dikembangkan lebih luas sebagai bahan baku parfum herbal, aromaterapi, hingga produk olahan bernilai tinggi lainnya.
"Jika petani mau berinovasi dan bermitra dengan UMKM, potensi ekonominya bisa berlipat. Kami siap memfasilitasi pelatihan dan akses pasar,” jelasnya.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Petani masih dihadapkan pada kendala fluktuasi iklim, keterbatasan akses pupuk organik, serta minimnya regenerasi petani muda yang terlibat dalam komoditas ini.
Salah satu petani di Desa Purwoasri, Muslikin (47), menyatakan optimisme terhadap masa depan tembakau kasturi.
“Selama kita bisa jaga kualitas dan terus belajar, tembakau kasturi ini bisa jadi komoditas emas,” ujarnya yakin.
Dengan sinergi antara petani, penyuluh, dan pelaku usaha, tembakau kasturi diproyeksikan akan menjadi primadona baru sektor pertanian di wilayah timur Pulau Jawa. (*)

Posting Komentar